Riwayat Cornelis Chastelein

Bermula dari pelarian Anthony Chastelein (1613 – 1664), seorang Hugenoot protestan pengikut Calvin dari Perancis akibat konflik agama di negerinya antara kaum Katholik dan kaum Protestan ke Belanda untuk menetap di sana. Anthony Chastelein kemudian menikahi Maria Nicolai , putri dari walikota Dordrecht, Cornelis Nicolaasse Cruydenier, pada tahun 1641 dan bekerja sebagai Direktur VOC untuk Kamar Dagang Amsterdam tahun 1652.

Dari pernikahan tersebut lahirlah Cornelis Chastelein pada tanggal 10 Agustus 1657 yang merupakan bungsu dari 8 bersaudara. Selain memperoleh pendidikan yang cukup tinggi, Chastelein juga mendapat gemblengan agama dari orang tuanya yang dikenal sebagai penganut Kristen Protestan yang fanatik.

Dalam usia yang masih remaja (17 tahun), Cornelis Chastelein berlayar ke Hindia Belanda pada tanggal 24 Januari 1675 dengan kapal “Huys Te Cleef”. Perjalanan itu memakan waktu 223 hari dengan melalui laut Afrika Selatan (karena belum ada terusan Suez). Hal mana mengakibatkan tibanya Cornelis Chastelein di Batavia baru pada tanggal 16 Agustus 1675. .

Mengikuti bibinya Henriette Chastelein, yang bersuamikan seorang pejabat (anggota istimewa Dewan Hindia) di Batavia yaitu Cornelis van Quaelbergh, Chastelein langsung mendapat pekerjaan sebagai boekhouder bij de kamer van zeventien atau pemegang buku di kantor Dewan Pengurus VOC berkat pengaruh suami bibinya tersebut.

Kemudian pada tahun 1680 dia menikah dengan seorang wanita Belanda bernama Chatarina van Qualbergh dan dikaruniai seorang putra yang diberi nama sama dengan kakeknya yaitu Anthony Chastelein.

Karena dinilai cakap dan cekatan. Karier Cornelis Chastelein pun menanjak. Pada tahun 1682, saat berusia 25 tahun dia diberi tanggung jawab atas gudang besar VOC di Kastil Batavia dan memangku jabatan sebagai Groot winkelier der OostIndische Compagnie. Selanjutnya pada tahun 1691 naik jabatannya menjadi Tweede Opper-koopman des Casteels Batavia dengan gaji 65 gulden. Pada saat yang bersamaan, VOC mengalami pergantian pemimpin dari Gubernur Jenderal Yohanes Champhuys menjadi Gubernur Jenderal Willem Van Outhoorn (1691-1704).

Era kepemimpinan yang baru ini ternyata banyak mengubah tujuan VOC, dari yang semulanya berdagang menjadi praktik eksploitasi terhadap penduduk pribumi demi mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Merasa tidak sesuai dengan falsafah dan prinsip-prinsip hidupnya sebagaimana yang dituangkannya dalam sebuah buku Invallende Gedagten Ende Aanmerkingen over Colonien (1705) , dengan alasan kesehatan Cornelis Chastelein pun keluar dari VOC.

Setelah Gubernur Jenderal Willem Van Outhoorn mengundurkan diri dalam tahun 1704, Chastelein kembali bekerja di VOC dan dengan Resolusi tanggal 18 Oktober 1704, beliau diangkat menjadi Raad Extra Ordinaris dengan gaji 200 gulden dan dilantik pada tanggal 28 Juli 1705. Pada tahun 1708 dalam usia 51 tahun beliau diangkat lagi menjadi “Raad Ordinaris Van Indie” yang kedudukannya setingkat di bawah penguasa tertinggi dengan gaji 350 gulden per bulan. Cornelis Chastelein menjadi seorang saudagar besar.

Sewaktu mundur dari VOC tahun 1691, Cornelis praktis tidak lagi memegang jabatan pemerintahan sampai dengan tahun 1704 dan mencoba merintis usaha di bidang perkebunan dan pertanian dengan mulai membeli banyak bidang tanah.

Pada mulanya di tahun 1693 dia membeli tanah yang meliputi wilayah di mana sekarang Rumah Sakit Militer Gatot Subroto (RSPAD) berdiri, kemudian diteruskan ke Pintu Air sampai Bungur Besar, Senen Raya sampai ke Kwitang sepanjang kali Ciliwung sampai Pintu Air Lagi.

Di Senen Raya (Gg. Kenanga) ia membuat bangunan tempat tinggalnya yang cukup megah, dihiasi dengan taman-taman yang indah dan parit-parit sekelilingnya. Daerah kwini pada tanah mana didirikan RSPAD Gatot Subroto dijadikan kebun Kopi, sedangkan lapangan Banteng selatan dijadikan kebun Tebu, yang hasilnya merupakan bahan baku bagi pabrik gula miliknya yang dibangun di sekitar tempat itu juga (wilayah Pejambon).

Di daerah gang Kwini Cornelis Chastelein membangun sebuah kebun Binatang yang koleksinya sudah memenuhi persyaratan sehingga proyek itu dikenal sebagai kebun binatang pertama di Indonesia. Daerah keseluruhannya, di mana dibangun bangunan megah yang dikelilingi dengan taman bunga dan parit-parit telah menciptakan suasana yang tenteram sehingga menimbulkan kenyamanan dan kepuasan. Rasa kepuasan inilah atau WELTEVREDEN menjadi nama untuk daerah yang sekarang dikenal dengan Gambir (Jakarta Pusat).

Dalam perjalanan sejarah berikutnya diketahui bahwa pada tanggal 15 Oktober 1695 Cornelis Chastelein membeli lahan di Lenteng Agung dan membangun sebuah vila di Srengseng Sawah. “Namun lahan yang berbukit-bukit menyulitkan sistem pengairan bagi aneka kebun yang dikelolanya. Akhirnya dia membeli tanah di Depok,” ujar Yano Jonathans (Penulis buku Depok Tempo Doeloe). Tidak hanya itu saja, Cornelis juga mendapat hadiah berupa tanah di Mampang, wilayah di dekat Depok, dari pemerintah Batavia pada 15 Februari 1696,

Cornelis Chastelein membeli tanah Depok pada 18 Mei 1696 dari seorang Residen di Cirebon yang bernama Lucas van der Meur dengan harga 700 ringgit. Status tanah itu adalah tanah partikelir atau terlepas dari kekuasaan Hindia Belanda. Luasnya sekitar 1.244 ha dan dibatasi oleh Pondok Cina di utara, Ciliwung di timur, Cimanggis di selatan, dan Mampang di bagian barat. Tanah Karang Anyar, yang kemudian disebut Cinere, didapatkan dari pemerintah Batavia pada 1711. Selain itu, tanah kecil di sebelah timur Kali Ciliwung dibeli pada 5 September 1712 dari Tio Tiong Ko dan lahan di sebelahnya dibeli pada 5 Agustus 1713 dari Kapiten Bali Oessien. Pada akhirnya, lima persil tanah itu disatukan menjadi Depok.

Untuk menggarap tanahnya diperlukan tenaga kerja, maka Chastelein Pada 1693-1697, mengirimkan kapal ke bagian timur Nusantara untuk mengambil para budak. Tercatat jumlahnya 150 orang, sebagian besar berasal dari, Makassar, Bali, Timor, Minahasa dan daerah lain di wilayah timur Indonesia.

Mengapa Cornelis tidak mengambil budak dari Jawa, yang lebih dekat? Menurut Dr Lilie Suratminto, pengajar bahasa Belanda dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, hal itu disebabkan adanya perjanjian VOC dengan Kerajaan Mataram, yang mensyaratkan agar orang-orang dari Pulau Jawa tidak boleh dijadikan budak. “Kalau tidak ada perjanjian itu, budak Cornelis Chastelein pasti banyak dari Jawa,” ujarnya.

Sebagai tuan tanah, Chastelein memiliki hak untuk menguasai penduduk pribumi yang hidup di atas tanah tersebut. Chastelein memungut cukai setiap kali panen padi, besarnya seperlima dari hasil panen yang diperoleh.

Walaupun demikian, Cornelis sangat memperhatikan kesejahteraan budak-budaknya tersebut. Cornelis Chastelein mulai memikirkan nasib para pekerja dan seluruh asetnya jika dia meninggal. Supaya mereka tetap terjamin hidupnya. Sebelum wafat, Cornelis Chastelein menulis surat wasiat. Testament direvisi hingga lima kali yaitu tanggal 4 Juli 1696, 11 Mei 1701, 17 Juli 1708, 21 Maret 1711 dan akhirnya yang terakhir selesai pada tanggal 13 Maret 1714 disahkan oleh notaris Nicolas Van Haeften di Batavia pada tanggal itu juga.

Ketika beliau meninggal dunia pada 28 Juni 1714, surat wasiatnya lalu dibuka. Dalam testament atau maklumat tertulisnya, Cornelis memerdekakan seluruh budak beliannya yang berjumlah kurang-lebih 150 orang itu, dengan syarat mereka harus menjadi Kristen. Sejumlah 120 menuruti ajakan itu. Mereka kemudian disebut mardijkers yang berarti orang yang dimerdekakan. Budak-budak yang dibebaskan itu antara lain bernama Jan van Badinlias, Batoe Pahan, Samawarin van Bali, Hazin van Bali, Wiera van Makassar dan Florian van Bengalen, selain itu terdapat pula Raima dan istrinya, Mamma; Lukas dan istrinya, Klara; Sangkat Maligat, Malantas, Hagar dan Soman.

Salah seorang di antara mereka ditugaskan untuk memberi pelajaran agama kepada anak-anak dan memimpin ibadat sederhana. Pemimpin pertama ialah Baprima Lucas van Bali yang diangkat oleh Chastelein sendiri.

Kemudian mereka pun menggunakan 12 nama marga yaitu : Jonathan, Soedira, Laurens, Bacas, Loen, Isakh, Samuel, Leander, Joseph, Tholense, Jacob dan Zadokh. Ke 12 marga tersebut sebelumnya sama sekali tidak tercantum di surat wasiat Cornelis Chastelein dan baru muncul setelah wafatnya beliau. Nama-nama tersebut tercatat dalam administrasi pernikahan dan baptisan gereja.